Minggu, 12 Juni 2011

SUSTAINABILITY REPORTING SEBAGAI INFORMASI BENTUK PERTANGGUNGJAWABAN PERUSAHAAN TERHADAP LINGKUNGAN SOSIALNYA

Bab I
Pendahuluan
1.1.Latar belakang masalah
Pada era yang sekarang ini, sektor bisnis di Indonesia mulai berkembang. Tentu saja kebanyakan dari mereka masih memfokuskan tujuan utamanya pada pencarian keuntungan semata. Perusahaan atau organisasi lainnya menganggap bahwa sumbangsih kepada masyarakat cukup diberikan melalui nilai dalam penyediaan lapangan pekerjaan, pemenuhan kebutuhan dengan produknya dan pembayaran pajak kepada negara. Ketiga hal tersebut tidaklah cukup apabila perusahaan ingin bertahan sampai lima tahun ke depan karena masyarakat tidak hanya menuntut perusahaan menyediakan barang dan jasa saja tetapi juga pertanggungjawaban secara sosial terhadap kehidupannya.
Hal inilah yang mendorong perubahan paradigma para pemegang saham dan pengguna laporan keuangan dimana fokusnya tidak hanya pada perolehan laba perusahaan tetapi juga memperhatikan tanggung jawab sosial dan lingkungan sekitar perusahaan. Selain itu para pemimpin perusahaan juga menghadapi tantangan dalam menerapkan standar-standar etis terhadap praktik bisnis yang bertanggung jawab. Tanggung jawab sosial perusahaan dituangkan dalam bentuk suatu kepedulian sosial yang dapat kita namakan sebagai Corporate Social Responsibility (CSR). Dimana dalam praktiknya organisasi-organisasi bisnis melihatnya sebagai tekanan karena dalam mengimplementasikannya CSR masuk kedalam sebuah tantangan bisnis yang baru berkembang di tahun 2000-an.
Dalam praktiknya, seperti yang kita telah ketahui CSR belum mempunyai dasar pemikiran dan aturan yang cukup jelas dan kuat. Hal ini dapat dilihat dari, pengimplementasian CSR itu sendiri masih bersifat sukarela (volountary). Tim International Organization for Standarization (ISO) pada bulan September 2004 sebagai induk dari organisasi standar internasional mengundang berbagai pihak untuk melahirkan panduan (guedelines) dan standarisasi untuk tanggung jawab sosial yang diberi nama ISO 26000 : Guidance Standard on Social Responsibilty. ISO 26000 ini sifatnya hanya panduan saja dan bukan pemenuhan terhadap persyaratan (requirements) karena memang tidak dirancang sebagai standar sistem manajemen dan tidak digunakan sebagai sebagai standar sertifikasi (Yusuf Wibisono, 2007 : 38).
Hal ini memang harus dapat kita pahami,karena seperti yang telah kita ketahui CSR merupakan dampak dari perkembangan perubahan di dunia bisnis.
 Walaupun demikian inti dari konsep ini adalah keseimbangan antara penitikberatan perhatian terhadap aspek ekonomis dan aspek sosial serta lingkungan. Selain itu pelaporan non keuangan secara umum telah diakomodasi di Indonesia dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK). PSAK No. 1 menyatakan tentang penyajian laporan keuangan dinyatakan bahwa perusahaan dapat pula menyajikan laporan tambahan, khususnya bagi industri di mana lingkungan hidup memegang peranan penting. Untuk itu sudah selayaknya perusahaan melaporkan semua aspek yang mempengaruhi kelangsungan operasi perusahaan kepada masyarakat.
Dengan menganalisis perkembangan corporate social responsibility, didapatkan bahwa terdapat keterbatasan alam dalam mendukung kehidupan manusia sehingga perlu adanya upaya untuk menyadarkan dan membuat manusia peduli tidak hanya terhadap lingkungan hidup tapi juga pada lingkungan sosialnya (sustainability communication). para akuntan di Indonesia telah turut menyadari bahwa pentingnya penyusunan sustainability report karena di dalamnya terdapat prinsip dan standar pengungkapan yang mampu mencerminkan tingkat aktivitas perusahaan secara menyeluruh dan tentu saja berbeda dengan yang diungkapkan dalam laporan keuangan. Dengan adanya hal tersebut kinerja perusahaan bisa langsung dinilai oleh pemerintah, masyarakat, organisasi lingkungan, media massa khususnya pada investor dan kreditor (bank) karena investor maupun kreditor (bank) tidak mau menanggung kerugian yang disebabkan oleh adanya kelalaian perusahaan tersebut terhadap tanggung jawab sosial dan lingkungannya.
Dalam proses pelaporannya sustainability report, banyak diatur dalam standar aturan-aturan internasional baku yang diadopsi oleh Indonesia salah satunya adalah Global Reporting Initiative (GRI) yang di dalamnya mengatur prinsip dasar yang harus terdapat pada sustainability report yaitu: seimbang, dapat dibandingkan, teliti, tepat waktu, jelas dan dapat dipercaya. 
1.2.Identifikasi masalah
Perubahan paradigma dari sudut pandang dunia bisnis bahwa tujuan akhir organisasi berubah bukan hanya berorientasi pada keuntungan belaka menyadarkan sektor bisnis akan pentingnya tanggung jawab sosial terhadap lingkungan sekitar. Dengan menerapkan program tanggung jawab sosial terhadap lingkungan, hal ini dapat membawa perubahan dalam bentuk rencana strategis bagi perusahaan guna mempertahankan kelangsungan bisnisnya sampai dimasa yang akan datang. Data statistik menunjukkan bahwa pertumbuhan positif dari peningkatan kehidupan dari banyak orang di seluruh dunia ternyata diimbangi dengan informasi yang mengkhawatirkan mengenai kondisi lingkungan serta beban kemiskinan dan kelaparan yang berlanjut dari jutaan orang lainnya (bahwa pertumbuhan positif dari peningkatan taraf kehidupan banyak orang di seluruh dunia ternyata diimbangi dengan informasi mengenai kondisi lingkungan yang semakin mengkhawatirkan serta meningkatnya kemiskinan dan kelaparan dari jutaan orang lainnya). Kondisi kontras ini menciptakan dilema yang paling menantang bagi abad ke-21.
Salah satu tantangan utama dari pembangunan berkelanjutan adalah adanya tuntutan akan pilihan-pilihan dan cara berpikir yang baru dan inovatif. Perkembangan pengetahuan dan teknologi dituntut tidak hanya memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dapat membantu dalam memecahkan permasalahan terkait risiko dan ancaman terhadap keberlanjutan dari hubungan sosial kita, lingkungan, dan perekonomian. Karenanya, pengetahuan dan inovasi baru dalam teknologi, manajemen dan kebijakan publik, merupakan tantangan bagi segenap organisasi agar dapat membuat pilihan-pilihan baru dalam melaksanakan operasional mereka, produksi, jasa-jasa, dan aktivitas-aktivitas lainnya, yang akan berdampak terhadap bumi, manusia, dan perekonomian.
Transparansi mengenai keberlanjutan dari aktivitas organisasi menjadi point penting dari berbagai entitas yang  berkepentingan, termasuk perusahaan, pekerja, lembaga swadaya masyarakat, investor, akuntan, dan lainnya. Pengungkapan suistainability tentu saja mempunyai komponen kompenan yang cukup berbeda dari komponen-komponen yang diungkapkan dalam laporan keuangan. Suistainability report mampu mengungkapkan tingkat aktivitas perusahaan secara menyeluruh. Dengan adanya hal tersebut kinerja perusahaan bisa langsung dinilai oleh pemerintah, masyarakat, organisasi lingkungan, media massa khususnya pada investor dan kreditor.
Terdapat beberapa permasalahan yang timbul dari sustainability reporting yakni diantaranya bagaimana mengukur keberhasilan implementasi sustainability management (SM). Dalam perspektif akuntansi, cara paling mudah untuk menunjukkan praktik SM adalah dengan membuat sustainability reporting. Item apa yang harus diungkapkan dalam sustainability reporting? 
Dalam prakteknya penyusunan sustainability reporting memuat elemen-elemen penting yang berhubungan dengan aspek ekonomi, lingkungan dan manusia. Untuk dapat mencapai tujuan jangka panjang guna mendapatkan keberlangsungan usaha sampai dimasa yang akan datang maka diperlukanlah suatu bentuk tanggung jawab social perusahaan atau organisasi yang selanjutnya diungkapkan dalam sebuah penyusunan Suistainability report sebagai bukti bahwa telah adanya komitmen dari pihak perusahaan terhadap lingkungan sosialnya yang dapat dinilai hasilnya oleh para pihak yang membutuhkan informasi tersebut. Selain itu sustainability report merupakan  sebagai salah satu instrumen yang dapat digunakan oleh suatu organisasi baik pemerintah maupun perusahaan dalam berdialog dengan warga negara ataupun stakeholdernya sebagai salah satu upaya penerapan pendidikan pembangunan berkelanjutan. Karena itulah penyusunan suistainability report pada saat sekarang ini menempati posisi yang sama pentingnya juga dengan pengungkapan informasi seperti yang diungkapkan dalam laporan keuangan.
Dengan melihat pernyataan diatas kami mencoba membuat suatu identifikasi masalah dengan menitik beratkan pada pembahasan mengenai sustainability reporting sebagai informasi bentuk pertanggungjawaban perusahaan terhadap lingkungan sosialnya, mengenai :
“Pemaparan Atas semua aspek-aspek yang Berkaitan dengan Sustainability Reporting sebagai elemen penting dalam mempertahankan keberlangsungan usaha ”

1.3.Tujuan dan manfaat penulisan
1.3.1.      Tujuan Penulisan
Tujuan yang didapat dari penulisan makalah yang berjudul “sustainability reporting sebagai informasi bentuk pertanggungjawaban perusahaan terhadap lingkungan sosialnya”, adalah :
1.      Menjelaskan mengenai hubungan antara akuntansi lingkungan dengan sustainability reporting,
2.      Menjelaskan mengenai sejarah lahirnya sustainability reporting,
3.      Menjelaskan mengenai suistainability bisnis,
4.      Memberi informasi mengenai definisi sustainability reporting,
5.      Menjelaskan mengenai tujuan dan peranan sustainability reporting,
6.      Memberikan informasi mengenai teknik pelaporan sustainability reporting,
7.      Memaparkan mengenai Global Reporting Initiative (GRI) beserta indikator-indikator pengukurannya.

1.3.2.      Manfaat Penulisan
Manfaat dari penulisan makalah yang berjudul “sustainability reporting sebagai informasi bentuk pertanggungjawaban perusahaan terhadap lingkungan sosialnya”, yakni :
1.      Dapat memberikan pengetahuan mengenai sustainability reporting dan kaitannya dengan akuntansi lingkungan,
2.      Memberikan informasi mengenai pentingnya disusunnya sustainability reporting dalam suatu organisasi atau perusahaan,
3.      Memberikan pengetahuan mengenai tahap-tahap penyusunan sustainability reporting,
4.      Memberikan pengetahuan dan wawasan yang baru dari studi kasus yang kami angkat disini,
5.      Memberi pembelajaran yang berkelanjutan mengenai sustainability reporting dengan diangkatnya current issue yang sedang beredar dimasyarakat beserta pembahasannya,
Mendidik para mahasiswa agar dapat memecahkan masalah yang akan dihadapi ketika terjun kedunia bisnis yang berhubungan dengan sustainability reporting sehingga akan terciptalah pribadi yang handal.


1.4.Sumber dan teknik pengumpulan data
Dari makalah yang berjudul ”sustainability reporting sebagai informasi bentuk pertanggungjawaban perusahaan terhadap lingkungan sosialnya” kami mendapatkan data-data pendukung dari Media-media baik elektronik maupun media cetak karena permasalahan ini sedang hangat diperbincangkan.
Setelah kami mendapatkan sumber data yang jelas, maka kami akan menggunakan teknik-teknik pengumpulan data, diantaranya :
Teknik pengumpulan data:
1.      Browsing dari Internet
2.      Studi Pustaka
1.5.Sistematika penulisan
Dalam menulis makalah ini kami selain menuliskan kelengkapan awal, kami pun menulis beberapa bab dan sub bab yang menjadi isi dari makalah “sustainability reporting sebagai informasi bentuk pertanggungjawaban perusahaan terhadap lingkungan sosialnya
BAB I: PENDAHULUAN
Bab pendahuluan  merupakan bab awal dalam pembuatan suatu  makalah atau laporan ilmiah. Pada bab ini berisikan mengenai latar belakang penulis dalam membuat makalah tersebut, rumusan masalah dari judul makalah yang di tulis, batasan-batasan masalah, tujuan dan manfaat yang diberikan makalah tersebut kepada para pembaca oleh penulis, sumber dan teknik pengumpulan data yang memperlihatkan  kepada pembaca bagaimana penulis membuat dan mengisi makalahnya, serta sistematika penulisan yang dibuat oleh penulis.
BAB II: LANDASAN TEORI
Pada bab ini, akan dicantumkan teori-teori dari para ahli dan hasil pemikiran penulis sesuai dengan topik atau rumusan masalah sebelumnya. Penjelasan tentang masalah yang disajikan penulis. Dengan begitu pembaca mengetahui bagaimana penyelesaian masalah dan penjelasan-penjelasan yang menyangkut rumusan masalah yang disajikan penulis. Pembaca pun akan mendapatkan mendapatkan informasi-informasi dibab ini.
BAB III : PEMBAHASAN
Pada bab ini, penulis akan membahas mengenai pembahasan permaslahan yang ia angkat dalam makalah ini. Pembahasan harus sesuai dengan landasan teori yang telah dikemukakan sebelumnya.
BAB IV : PENUTUP
Bab ini berisikan kesimpulan dari penulisan makalah disertai dengan saran-saran dari penulis mengenai permasalahan yang dikemukakan.


Bab II
Landasan Teori
2.1  Kaitan Akuntansi Lingkungan sebagai dasar lahirnya Corporate Social Responsibility
Adanya Perubahan dari sudut pandang dunia bisnis bahwa tujuan akhir organisasi berubah bukan hanya berorientasi pada keuntungan belaka menyadarkan sektor bisnis akan pentingnya tanggung jawab sosial terhadap lingkungan sekitar. Dengan menerapkan program tanggung jawab sosial terhadap lingkungan, hal ini dapat membawa perubahan dalam bentuk rencana strategis bagi perusahaan guna mempertahankan kelangsungan bisnisnya sampai dimasa yang akan datang.
Dari data statistik yang didapat, menunjukkan bahwa pertumbuhan positif dari peningkatan kehidupan dari banyak orang di seluruh dunia ternyata diimbangi dengan informasi yang mengkhawatirkan mengenai kondisi lingkungan serta beban kemiskinan dan kelaparan yang berlanjut dari jutaan orang lainnya (bahwa pertumbuhan positif dari peningkatan taraf kehidupan banyak orang di seluruh dunia ternyata diimbangi dengan informasi mengenai kondisi lingkungan yang semakin mengkhawatirkan serta meningkatnya kemiskinan dan kelaparan dari jutaan orang lainnya). Kondisi kontras ini menciptakan dilema yang paling menantang bagi abad ke-21.
Banyak perusahaan yang menganggap bahwa bentuk kepedulian kepada masyarakat cukup diberikan melalui penyediaan lapangan pekerjaan, pemenuhan kebutuhan dengan produknya dan pembayaran pajak kepada negara. Tentu saja hal tersebut tidaklah cukup apabila perusahaan ingin bertahan dan berkembang untuk masa depannya karena masyarakat tidak hanya menuntut perusahaan menyediakan barang dan jasa saja tetapi juga pertanggungjawaban secara sosial. Sehingga saat ini pandangan pemegang saham dan pengguna laporan keuangan pada telah berubah dimana fokusnya tidak hanya pada perolehan laba perusahaan tetapi juga memperhatikan tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan. Selain itu para pemimpin perusahaan juga menghadapi tantangan dalam menerapkan standar-standar etis terhadap praktik bisnis yang bertanggung jawab. Tekanan untuk menerapkan Corporate Social Responsibility (CSR) menempati ranking kedua dari tantangan-tantangan bisnis paling penting di tahun 2000. Walaupun sedang banyak dibicarakan tetapi CSR itu sendiri merupakan hal yang belum pasti, hal ini bisa dilihat dari definisi secara operasional.

Pada bulan September 2004 tim International Organization for Standarization (ISO) sebagai induk dari organisasi standar internasional mengundang berbagai pihak untuk melahirkan panduan (guedelines) dan standarisasi untuk tanggung jawab sosial yang diberi nama ISO 26000 : Guidance Standard on Social Responsibilty. ISO 26000 ini sifatnya hanya panduan saja dan bukan pemenuhan terhadap persyaratan (requirements) karena memang tidak dirancang sebagai standar sistem manajemen dan tidak digunakan sebagai sebagai standar sertifikasi (Yusuf Wibisono, 2007 : 38).  Hal ini memang harus kita pahami karena seperti yang kita ketahui CSR merupakan dampak dari perkembangan dunia bisnis yang umurnya baru berkembang . Walaupun demikian inti dari konsep ini adalah keseimbangan antara perhatian terhadap aspek ekonomis dan aspek sosial serta lingkungan. Selain itu pelaporan non keuangan secara umum telah diakomodasi dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK). PSAK No. 1 menyatakan tentang penyajian laporan keuangan dinyatakan bahwa perusahaan dapat pula menyajikan laporan tambahan, khususnya bagi industri di mana lingkungan hidup memegang peranan penting. Untuk itu sudah selayaknya perusahaan melaporkan semua aspek yang mempengaruhi kelangsungan operasi perusahaan kepada masyarakat.

Sesuai dengan Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (PT) yang mengungkap berbagai ketentuan tentang pendirian PT dan salah satunya pada pasal 74 membahas tentang tanggung jawab sosial dan lingkungan yang bertujuan mewujudkan pembangunan ekonomi berkelanjutan guna meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat bagi PT itu sendiri, komunitas setempat dan masyarakat pada umumnya. Untuk melaksanakan kewajiban tersebut, kegiatan tanggung jawab sosial dan lingkungan harus dianggarkan serta diperhitungkan sebagai biaya PT yang dilaksanakan dengan memperhatikan kepatuhan dan kewajaran. Pada pasal 66 juga dijelaskan bahwa kegiatan tersebut dimuat dalam laporan tahunan PT, salah satunya adalah laporan pelaksanaan tanggung jawab sosial dan lingkungan. Apabila PT tidak melaksanakannya maka PT yang bersangkutan dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Dengan menganalisis perkembangan corporate social responsibility, didapatkan bahwa terdapat keterbatasan alam dalam mendukung kehidupan manusia sehingga perlu adanya upaya untuk menyadarkan dan membuat manusia peduli tidak hanya terhadap lingkungan hidup tapi juga pada lingkungan sosialnya (sustainability communication). para akuntan   menyadari bahwa pentingnya penyusunan sustainability report karena di dalamnya terdapat prinsip dan standar pengungkapan yang mampu mencerminkan tingkat aktivitas perusahaan secara menyeluruh dan tentu saja berbeda dengan yang diungkapkan dalam laporan keuangan. Dengan adanya hal tersebut kinerja perusahaan bisa langsung dinilai oleh pemerintah, masyarakat, organisasi lingkungan, media massa khususnya pada investor dan kreditor (bank) karena investor maupun kreditor (bank) tidak mau menanggung kerugian yang disebabkan oleh adanya kelalaian perusahaan tersebut terhadap tanggung jawab sosial dan lingkungannya. Dimana dalam proses pelaporan, ada beberapa standar yang sudah dikenal untuk menunjukkan kinerja perusahaan dalam mengimplementasikan tanggung jawab sosial dan lingkungannya. Salah satunya adalah Global Reporting Initiative(GRI).
Pada dasarnya sustainability report  perlu ada untuk melaporkan kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) yang merupakan hal yang penting bagi sebuah perusahaan. Yang mana di dalam perusahaan ada yang dinamakan proses internal dan proses eksternal, di mana proses internal biasanya terkendali dan proses eksternal biasanya uncertain.  Dengan diterapkannya sustainibility report pada organisasi atau perusahaan berdasarkan standar GRI ini, diharapkan dapat menciptakan perusahaan berbisnis secara beretika dan dapat berkembang secara berkelanjutan.

2.2  Definisi Sustainability reporting dan kaitannya dengan Akuntansi Lingkungan
Akuntansi lingkungan dapat didefinisikan sebagai proses pengidentifikasian, pengukuran dan pengaokasian biaya-biaya lingkungan hidup dan pengintegrasian biay-biaya ke dalam pengambilan keputusan usaha serta mengkomunikasikan hasilnya kepada para stockholders perusahaan (Sri Hastuti dan Ikhsan:2002)
Sedangkan menurut Djogo (2002) mendefinisikannya sebagai suatu istilah yang berkaitan dengan memasukkan biaya lingkungan ke dalam praktik akuntansi perusahaan atau lembaga pemerintah. Dimana biaya lingkungan merupakan dampak baik moneter maupun non-moneter yang haris diakui sebagai akibat dari dilakukannya kegiatan yang mempengaruhi kualitas lingkungan.
Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa akuntansi lingkungan dapat memuat kaitan komponen-komponen didalam lingkungan social dimana dapat menjelaskan hubungan sebab akibat dari pos-pos biaya yang dikeluarkan yang akan berdampak pada kualitas lingkungan disekitarnya. Pada akuntansi lingkungan terdapat perhitungan atas Polusi (baik air, tanah, dan udara), Pengelolaan sampah, limbah dan lain-lainyayang secara langsung ataupun tidak dapat terkena akibat dari kegiatan usaha yang dilakukan oleh perusahaan atau organisasi.
Akuntansi lingkungan ini merupakan salah satu dampak dari adanya perubahan pandangan seiring dengan munculnya berbagai kasus yang merugikan lingkungan. Dimana memunculkan paradigma bisnis yang tidak lagi mengacu pada single P, tetapi berubah menjadi Triple P (Profit, People dan Planet). 
hal ini mengindikasikan bahwa bisnis yang dibangun haruslah menguntungkan tidak hanya bagi perusahaan tetapi  bermanfaat juga bagi manusia/pekerja, dan lingkungannya. Pandangan ini didasarkan pada konsep Sustainable development, yaitu konsep pembangunan dimana untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia sekarang tidak boleh mengganggu kemampuan generasi yang akan datang dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka dimasa yang akan datang. Cara yang mudah untuk mengimplementasikan pengukuran dan penganalisisan sustainability development yakni dengan menggunakan sustainability reporting dalam praktinya. Dimana sustainability reporting dapat menginformasikan segala bentuk kegiatan perusahaan melalui pos-pos pembiayaan perusahaan guna lingkungan sosialnya yang tentunya berbeda seperi pengungkapan pada laporan keuangan seperti biasanya.
Berikut ini merupakan berbagai definisi yang dapat mendefinisikan sustainability report yakni diantaranya adalah:
Ø  Laporan keberlanjutan adalah praktek pengukuran, pengungkapan dan upaya akuntabilitas dari kinerja organisasi dalam mencapai tujuan pembangunan atas usaha yang berkelanjutan kepada para pemangku kepentingan baik internal maupun eksternal. Laporan keberlanjutan merupakan sebuah istilah umum yang dianggap sinonim dengan istilah lainnya untuk menggambarkan laporan mengenai dampak ekonomi, lingkungan, dan social.
Ø  sustainability report merupakan suatu bentuk informasi dimana di dalamnya terdapat prinsip dan standar pengungkapan yang mampu mencerminkan tingkat aktivitas perusahaan secara menyeluruh dan tentu saja berbeda dengan yang diungkapkan dalam laporan keuangan.

2.3  Sustainability Business
Dari pengertiannya sendiri ialah bentuk gabungan dari berbagai disiplin ilmu yang bertanggung jawab soal lingkungan menjadi suatu disiplin yang selalu mengacu pada efek lingkunga, sosial, dan ekonomi dari sebuah bisnis atau proyek secara keseluruhan.
2.3.1        Faktor Pendorong untuk mengimplementasikan Sustainability Business
Secara internasional, kesadaran akan pentingnya komitmen bersama untuk menurunkan emisi gas rumah kaca dan menyelamatkan dunia dari kerusakan yang lebih parah dimulai dari Protokol Kyoto. Kesepakatan yang ditandatangani 11 Desember 1997 dan diberlakukan sejak 16 Februari 2005 ini diratifikasi oleh 181 negara di dunia. Setiap negara, terutama negara-negara industri yang menjadi penyumbang terbesar emisi gas rumah kaca, mempunyai target penurunan emisi. Dan target-target tersebut diturunkan pada setiap perusahaan di negara-negara tersebut.
AICPA, CICA dan CIMA-ketiganya adalah asosiasi akuntan di Amerika Serikat, Kanada dan asosiasi akuntan manajemen secara berurutan - melakukan survei mengenai faktor apakah yang paling utama dalam mendorong perusahaan untuk mengimplementasikan bisnis yang berkelanjutan, dan diperoleh hasil sebagai berikut: 
1.       Kepatuhan terhadap regulasi
2.      Pengelolaan  risiko atas reputasi internasional
3.      Pengurangan biaya dan efisiensi
Di Indonesia, regulasi terkait dengan penerapan dan pengungkapan bisnis yang berkelanjutan antara lain:
1.       Regulasi Bappepam yang mewajibkan pengungkapan aktivitas CSR dalam laporan tahunan sejak tahun 2005
2.      UU PT no 40 tahun 2007
3.      Semua BUMN diwajibkan mengalokasikan 1-3% dari laba bersih  untuk membiayai program pengembangan masyarakat dan menyerahkan laporan terpisah yang sudah diaudit.
Setiap perusahaan memiliki alasan yang berbeda dalam mengimplementasikan bisnis yang berkelanjutan.   Berikut adalah  faktor-faktor yang mendorong implementasi strategi  keberlanjutan perusahaan ( Survei AICPA,CICA dan CIMA).
1.      Kepatuhan terhadap regulasi dan hokum
2.      Pengelolaan risiko terhadap merk atau reputasi  perusahaan
3.      Mencapai keunggulan bersaing dan profitabilitas jangka panjang
4.      Efisiensi dan penghematan biaya
5.      Nilai-nilai perusahaan
6.      Permintaan pelanggan akan produk yang ‘hijau’ alias peduli lingkungan  
7.      Pengawasan publik terhadap praktik ketenagakerjaan, dan praktik bisnis lainnya
8.      Faktor-faktor yang mendorong karyawan bergabung dan bertahan   
9.      Persyaratan dari vendor
10.  Bantuan pemerintah, atau insentif lainnya, seperti keringanan pajak atau bunga pinjaman


2.3.2        Cara Menjadi Sustainability Business
Berikut ini ada 10 langkah, yang dibagi dalam 3 (tiga) kelompok besar yang bisa dijadikan pedoman untuk menjadi bisnis yang berkelanjutan:

Dari sisi Strategy dan Pengawasan berarti menuntut adanya
1)      komitmen dari Dewan Direksi dan manajemen senior,
2)      memahami dan menganalisis key sustainability drivers organisasi dan
3)      mengintegrasikan key sustainability drivers kedalam strategi organisasi.
Dari sisi Eksekusi dan Asosiasi berarti
4)      memastikan bahwa keberlanjutan adalah tanggungjawab setiap orang dalam organisasi (jadi, bukan hanya departemen tertentu),
5)      menjabarkan target dan tujuan keberlanjutan organisasi menjadi target dan tujuan yang bermakna untuk divisi, departemen atau anak perusahaan,
6)      melakukan proses yang memastikan bahwa isu keberlanjutan ini dipertimbangkan secara tegas dan konsisten dalam pengambilan keputusan sehari-hari,
7)      mengikuti pelatihan terkait dengan effective dan extensive sustainability, sehingga implementasinya bisa lebih terarah, bukan hanya common sense.
Dari sisi Kinerja dan Pelaporan membutuhkan perusahaan untuk
8)       memasukkan target dan tujuan keberlanjutan dalam penilaian kinerja,
9)      menjadi yang terdepan dalam mempromosikan keberlanjutan dan merayakan setiap keberhasilan dan
10)  memonitor dan melaporkan kinerja keberlanjutan.


2.4  Sustainability Reporting
Dewasa ini perusahaan dituntut oleh stakeholder kunci seperti karyawan, pemegang saham dan konsumen untuk transparan atas visi/misi, prinsip, tujuan dan kinerjanya dalam segala dimensi pembangunan berkelanjutan.  Sustainability reporting adalah jawaban yang sesuai dengan prinsip-prinsip KPB.  Sustainability reporting adalah usaha dari suatu organisasi (perusahaan) dalam memproduksi dan mempublikasikan  sustainability report (SR). SR – menurut World Business Council for Sustainable Development – bisa didefinisikan sebagai laporan publik dimana perusahaan memberikan gambaran posisi dan aktivitas perusahaan pada aspek ekonomi, lingkungan dan sosial kepada stakeholder internal dan eksternalnya (WBCSD 2002:7). Dengan demikian, SR, idealnya, mengintegrasikan tiga bentuk laporan sebelumnya (keuangan, sosial dan lingkungan). Bagaimanapun juga, memproduksi SR merupakan proses yang menantang. SR hanyalah puncak dari gunung es. Perusahaan akan sulit membuat laporan yang akurat dan dapat dipercaya tanpa sebelumnya memiliki dan menerapkan sistem informasi dan manajemen 9 internal yang handal. Memproduksi SR membutuhkan komitmen kuat dari pimpinan perusahaan, alur tanggung jawab yang jelas dan sumber daya yang memadai. SR bukanlah hasil dari proses  instant, melainkan merupakan hasil dari pengalaman perusahaan selama bertahun-tahun dalam melakukan aktivitas sesuai dengan konsep pembangunan berkelanjutan.

2.4.1        Peranan dan Tujuan Sustainability Reporting
Laporan keberlanjutan adalah praktek pengukuran, pengungkapan dan upaya akuntabilitas dari kinerja organisasi dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan kepada para pemangku kepentingan baik internal maupun eksternal. ‘Laporan Keberlanjutan’ merupakan sebuah istilah umum yang dianggap sinonim dengan istilah lainnya untuk menggambarkan laporan mengenai dampak ekonomi, lingkungan, dan sosial (misalnya triple bottom line, laporan pertanggungjawaban perusahaan, dan lain sebagainya).
Sebuah laporan keberlanjutan harus menyediakan gambaran yang berimbang dan masuk akal dari kinerja keberlanjutan sebuah organisasi –baik kontribusi yang positif maupun negatif.
Laporan Keberlanjutan yang disusun berdasarkan Kerangka Pelaporan GRI mengungkapkan keluaran dan hasil yang terjadi dalam suatu periode laporan tertentu dalam konteks komitmen organisasi, strategi, dan pendekatan manajemennya. Laporan dapat digunakan untuk tujuan berikut, di antaranya:
·         Patok banding dan pengukuran kinerja keberlanjutan yang menghormati hukum, norma, kode, standar kinerja, dan inisiatif sukarela;
·         Menunjukkan bagaimana organisasi mempengaruhi dan dipengaruhi oleh harapannya mengenai pembangunan berkelanjutan; dan
·         Membandingkan kinerja dalam sebuah organisasi dan di antara berbagai organisasi dalam waktu tertentu.

2.4.2        Prinsip-prinsip Sustainability Reporting
Laporan Keberlanjutan digunakan  untuk menggambarkan laporan mengenai dampak ekonomi, lingkungan, dan sosial suatu perusahaan. Terdapat Prinsip-prinsip dalam penyusunan sustainability reporting, sehingga membuat informasi yang tertuang di dalam  sustainability reporting menjadi informasi yang berkualitas dan memadai. Prinsip-prinsip ini sangat fundamental bagi terwujudnya transparansi yang efektif. Kualitas informasi akan memungkinkan pemangku kepentingan untuk membuat penilaian yang masuk akal serta tindakan yang memadai terkait kinerja organisasi. Prinsip-prinsip tersebut yaitu :
·         Keseimbangan
Laporan harus menggambarkan aspek positif dan negatif dari kinerja perusahaan untuk dapat memungkinkan penilaian yang masuk akal terhadap keseluruhan kinerja. Keseluruhan penyajian isi laporan harus menyajikan gambaran yang tidak bias terhadap kinerja organisasi. Laporan harus menghindari pemilihan, penghilangan, atau penyajian format yang memungkinkan kesalahan penilaian oleh pembaca laporan.
·         Dapat diperbandingkan
Isu-isu dan informasi harus dipilih, dikumpulkan, dan dilaporkan secara konsisten. Informasi yang dilaporkan harus disajikan dalam sebuah cara yang memungkinkan pemangku kepentingan dapat menganalisis perubahan kinerja organisasi dari waktu ke waktu dan dapat mendukung analisis relatif terhadap organisasi lainnya. Perbandingan sangat dibutuhkan dalam mengevaluasi kinerja. Pemangku kepentingan yang menggunakan laporan harus dapat membandingkan informasi kinerja ekonomi, lingkungan, dan sosial yang dilaporkan dengan kinerja organisasi sebelumnya, sasarannya, dan apabila memungkinkan dengan kinerja organisasi lainnya. Konsistensi dalam melaporkan memungkinkan pihak-pihak internal dan eksternal untuk melakukan perbandingan.
·         Kecermatan
Informasi yang dilaporkan harus cukup cermat dan detail bagi pemangku kepentingan dalam menilai kinerja organisasi.
·         Ketepatan waktu
Laporan dilakukan berdasarkan jadwal reguler serta informasi kepada pemangku kepentingan tersedia tepat waktu ketika dibutuhkan dalam mengambil kebijakan. Kegunaan informasi akan sangat terkait dengan apakah waktu pengungkapannya kepada pemangku kepentingan dapat memungkinkan mereka untuk mengintegrasikannya secara efektif dalam pembuatan kebijakan yang mereka lakukan.
·         Kejelasan
Informasi harus disediakan dalam cara yang dapat dimengerti dan diakses oleh pemangku kepentingan yang menggunakan laporan. Laporan harus menyajikan informasi dalam cara yang dapat dimengerti, dapat diakses, dan dapat digunakan oleh para pemangku kepentingan organisasi (baik dalam bentuk cetak maupun saluran lainnya). Pemangku kepentingan harus dapat menemukan informasi yang dibutuhkannya tanpa harus bekerja keras. Informasi harus disajikan dalam cara yang komprehensif kepada pemangku kepentingan yang telah memiliki pemahaman akan organisasi dan aktivitasnya. Grafik dan tabel data terkonsolidasi dapat membantu dalam memahami dan mengakses informasi yang ada dalam laporan.
·         Keterandalan
Informasi dan proses yang digunakan dalam penyiapan laporan harus dikumpulkan, direkam, dikompilasi, dianalisis, dan diungkapkan dalam sebuah cara yang dapat diuji dan dapat membentuk kualitas dan materialitas dari laporan. Pemangku kepentingan harus yakin bahwa sebuah laporan dapat dicek ketepatan dan ketelitian isinya serta tingkatan Prinsip Pelaporan yang digunakan. Informasi dan data yang termasuk dalam laporan harus didukung oleh pengendalian internal atau dokumentasi yang dapat di-review oleh individu di luar mereka yang terlibat dalam pembuatan laporan.

2.4.3        Teknik Pelaporan CSR
CSR diartikan sebagai suatu tindakan etis atau tanggung jawab perusahaan terhadap stakeholders. Tindakan etis atau tanggung jawab tersebut dimaksudkan agar mendapat penerimaan dari masyarakat luas. Tanggung jawab sosial meliputi aspek sosial dan lingkungan, dalam hal ini aspek ekonomi telah  tercakup dalam aspek sosial. Stakeholders terdiri dari pihak dalam dan luar perusahaan. Tujuan utama dari tanggung jawab sosial adalah untuk meningkatkan  standar hidup, tanpa mengesampingkan pencapaian keuntungan untuk semua  pihak baik yang berada di dalam ataupun di luar perusahaan.
     Untuk itulah maka pertanggungjawaban sosial perusahaan (CSR) perlu diungkapkan dalam perusahaan sebagai wujud pelaporan tanggung jawab sosial kepada masyarakat. Pertanggungjawaban sosial perusahaan diungkapkan dalam dua bentuk yaitu :
·       Di dalam laporan yang disebut Sustainability Reporting. Sustainability Reporting adalah pelaporan mengenai kebijakan ekonomi, lingkungan dan sosial, pengaruh dan kinerja organisasi dan produknya di dalam konteks pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Sustainabitity report harus menjadi dokumen strategik yang berlevel tinggi yang menempatkan isu, tantangan dan peluang Sustainability Development yang membawanya menuju kepada core business dan sektor industrinya.
·      Laporan tanggung jawab sosial perusahaan di ungkapkan dan disajikan dalam Annual Report.

2.4.4        Standar Sustainability Reporting
Salah satu standar Sustainability Reporting adalah standar yang dibuat oleh GRI. GRI membuat kerangka pelaporan, yang ditujukan sebagai sebuah kerangka yang dapat diterima umum dalam melaporkan kinerja ekonomi, lingkungan, dan sosial dari organisasi. Kerangka ini didesain untuk digunakan oleh berbagai organisasi yang berbeda ukuran, sektor, dan lokasinya. Kerangka ini juga memperhatikan pertimbangan praktis yang dihadapi oleh berbagai macam organisasi –dari perusahaan kecil sampai kepada perusahaan yang memiliki operasi ekstensif dan tersebar di berbagai lokasi.
            Kerangka Pelaporan GRI mengandung kandungan isi umum dan sektor secara spesifik yang telah disetujui oleh berbagai pemangku kepentingan di seluruh dunia dan dapat diaplikasikan secara umum dalam melaporkan kinerja keberlanjutan dari sebuah organisasi. Panduan Pembuatan Laporan Berkelanjutan terdiri atas Prinsip-prinsip Pelaporan, Panduan Pelaporan dan Standar Pengungkapan (termasuk di dalamnya Indikator Kinerja) Elemen-elemen ini dipertimbangkan memiliki bobot dan kepentingan yang sama.  Kerangka Pelaporan itu terdiri dari :

Bagian 1 – Panduan dan Prinsip Pelaporan
Untuk membantu dalam menentukan apa yang harus dilaporkan, bagian ini mencakup Prinsip Pelaporan terkait materialitas, pelibatan pemangku kepentingan, konteks keberlanjutan dan kelengkapan laporan, beserta seperangkat Alat Penguji singkat untuk setiap Prinsip.
1.      Menetapkan Isi Laporan
Dalam rangka menjamin penyampaian kinerja organisasi yang seimbang dan masuk akal, harus dibuat penetapan mengenai isi yang harus dicakup dalam laporan. Penetapan ini harus dibuat dengan mempertimbangkan tujuan dan pengalaman organisasi, serta harapan dan kepentingan yang masuk akal dari para pemangku kepentingan. Keduanya merupakan referensi penting dalam menentukan hal apa yang harus dimasukkan dalam laporan.
2.      Prinsip Pelaporan untuk Menetapkan Kualitas
Bagian ini mengandung Prinsip-prinsip yang mengarahkan pilihan dalam menjamin kualitas dari informasi yang dilaporkan termasuk penyajiannya yang memadai. Kebijakan terkait proses penyiapan informasi dalam pembuatan laporan harus konsisten dengan Prinsip ini. Semua prinsip ini sangat fundamental bagi terwujudnya transparansi yang efektif. Kualitas informasi akan memungkinkan pemangku kepentingan untuk membuat penilaian yang masuk akal serta tindakan yang memadai terkait kinerja organisasi
3.      Panduan Pelaporan untuk Menetapkan Batas
Batasan Laporan Keberlanjutan harus memasukkan entitas di mana organisasi memiliki pengendalian yang memadai atau pengaruh yang signifikan baik entitas hulu (misalnya rantai pasokan) maupun hilir (misalnya distribusi dan konsumen).
Bagian 2 – Standar Pengungkapan

Mengenai Standar Pengungkapan yang harus dimasukkan dalam laporan keberlanjutan.  Terdiri dari :
1.  Strategi dan Profil
Strategi dan Analisis
Bagian ini ditujukan untuk menyediakan pandangan strat­egis tingkat tinggi mengenai hubungan organisasi dengan keberlanjutan dalam upaya menyediakan konteks laporan yang lebih detail seperti dalam sektor lainnya pada Pand­uan.
2.  Profil Organisasi
2.1.   Nama organisasi.
2.2.   Merek, produk, dan atau jasa utama.
2.3. Struktur operasional organisasi, termasuk didalamnya divisi utama, perusahaan yang menjalankan usaha (operating companies), perusahaan anak (anak peru­sahaan) dan usaha patungan.
2.4.   Lokasi kantor pusat organisasi.
2.5.  Jumlah negara di mana perusahaan beroperasi, serta nama negara di mana operasi utama dilaksanakan, atau yang relevan dengan isu keberlanjutan yang dicakup dalam laporan.
2.6.  Sifat kepemilikan dan bentuk legal.
2.7. Pasar yang dilayani (termasuk di dalamnya diperinci berdasarkan geografi, sektor yang dilayani dan jenis konsumen/penerima manfaat).
2.8. Skala organisasi, termasuk di dalamnya:
Jumlah pegawai;
Penjualan Netto (untuk organisasi sektor privat) atau pendapatan netto (untuk organisasi sector
3. Parameter Laporan
Profil laporan
3.1.Periode pelaporan (misalnya tahun fiskal/kalender)
3.2. Tanggal dari laporan sebelumnya yang paling baru (jika ada).
3.3. Siklus Pelaporan (tahunan, dua tahun sekali, dan sebagainya).
3.4. Alamat Kontak apabila ada pertanyaan terkait laporan
4. Tata Kelola, Komitmen, dan Keterlibatan
1)      Tata kelola
Struktur tata kelola organisasi, termasuk komite di bawah badan pengelola tertinggi yang bertanggung jawab untuk tugas khusus, seperti dalam menetapkan strategi atau mekanisme pengawasan organisasi.
2)       Komitmen terhadap inisiatif eksternal
Penjelasan mengenai bagaimana pendekatan atau prinsip pencegahan digunakan oleh organisasi.
3)      Keterlibatan pemangku kepentingan
Item pengungkapan berikut merujuk kepada pelibatan pemangku kepentingan secara umum yang dilakukan oleh organisasi selama periode laporan. Pengungkapan ini tidak terbatas hanya pada implementasi pelibatan pemangku kepentingan untuk tujuan penyiapan sebuah laporan keberlanjutan.
5.                  Tanggung jawab pada Lingkungan
Dimensi Lingkungan dari keberlanjutan yang mempengaruhi dampak organisasi terhadap sistem alami hidup dan tidak hidup, termasuk ekosistem, tanah, air dan udara. Indikator Lingkungan meliputi kinerja yang berhubungan dengan input (misalnya material, energi, dan air) dan output (misalnya emisi, air limbah, dan limbah). Sebagai tambahan, indikator ini melingkupi kinerja yang berhubungan biodiversity (keanekaragaman hayati), kepatuhan lingkungan, dan informasi relevan lainnya seperti pengeluaran lingkungan (environmental expenditure) dan dampaknya terhadap produk dan jasa. Penjelasan Pendekatan Manajemen
a.                   Berikan penjelasan singkat mengenai Pendekatan Manajemen terhadap Aspek Lingkungan seperti tercantum di bawah ini:
·         Material
·         Energi
·         Air
·         Biodiversitas
·         Emisi, Efluen dan Limbah
·         Produk dan Jasa
·         Kepatuhan
·         Transportasi; dan
·         Keseluruhan
b.      Tujuan dan Kinerja
Tujuan keseluruhan organisasi terhadap kinerja yang berhubungan dengan Aspek Lingkungan. Gunakanlah Indikator spesifik organisasi yang ditambah dengan Indikator Kinerja GRI untuk menunjukkan hasil dari kinerja terhadap tujuan.
c.       Kebijakan
Secara singkat, kebijakan organisasi secara keseluruhan yang menentukan komitmen organisasi terhadap Aspek Lingkungan yang tercantum di atas atau yang dapat ditemukan di ruang publik (misalnya weblink). Tanggung Jawab Organisasi
Posisi paling senior dalam tanggung jawab operasional terhadap Aspek Lingkungan atau menjelaskan bagaimana tanggung jawab operasional dibagi pada tingkatan senior.).
d.      Pelatihan dan Kesadaran
Prosedur yang berhubungan dengan pelatihan dan peningkatan kesadaran yang berhubungan dengan Aspek Lingkungan.
e.       Pengawasan dan Tindak Lanjut
Prosedur yang berhubungan dengan pengawasan dan aksi pencegahan (preventive) dan pembetulan (corrective), termasuk yang berhubungan dengan rantai penyaluran (supply chain).
f.Informasi Tambahan Kontekstual
Informasi tambahan relevan yang dibutuhkan untuk memahami kinerja organisasi.
·         Sukses penting dan kekurangan Risiko organisasi lingkungan dan
·         kesempatan yang berhubungan dengan isu yang berkaitan.
·         Perubahan utama di dalam periode pelaporan terhadap struktur atau sistem untuk perbaikan kinerja; dan
·         Strategi penting dan prosedur untuk implementasi kebijakan atau pencapaian tujuan.
6.                  Tanggung jawab pada pekerja dan masyarakat
Sama hal nyaseperti tanggung jawab pada lingkungan,tanggung jawab pada pekerja dan masyarakat pun dimulai dari:
a.       Berikan penjelasan singkat mengenai Pendekatan Manajemen
b.      Tujuan dan Kinerja
c.       Kebijakan
d.      Pelatihan dan Kesadaran
e.       Pengawasan dan tindak lanjut
f.       Informasi Tambahan Kontekstual

2.5  Contoh perusahaan dan bentuk Sustainability reporting
Seiring dengan semakin banyaknya perusahaan yang befikir bahwa tanggung jawab terhadap sosial dan lingkungan merupakan hal yang penting di dalam menjalankan suatu organisasi, untuk mempertahankan kelangsungan atau keberlanjutan kegiatan suatu organisasi, maka banyak perusahaan yang melaporkannya salah satu nya dalam Sustainability Reporting. Berikut akan disampaikan mengenai perusahaan yang melaporkan tanggung jawab nya dalam Sustainability Reporting.
SUSTAINABILITY REPORT 2009
PT BADAK NGL
Secara umum bentuk laporan keberlanjutann PT BADAK NGL tahun 2009 sama dengan kerangka pelaporan atau standar yang di buat oleh GRI, yang telah kami sampaikan di atas. Sustainability Reporting PT BADAK NGL diawali dengan visi dan misi PT BADAK NGL, yaitu :
Visi
Menjadi perusahaan energi kelas dunia yang terdepan dalam inovasi.
Misi
Memproduksi energi bersih serta mengelola denganstandar kinerja terbaik sehingga menghasilkan nilaitambah maksimal bagi pemangku kepentingan

PT Badak NGL selalu berkomitmen tinggi dalam pembangunan berkelanjutan melalui pengembangan inovasi-inovasi terdepan dalam teknologi, manajemen, community development dan pelestarian alam. Setelah penjabaran visi dan misi, laporan itu juga berisi mengenai aktivitas perusahaannya.

Aktivitas utama PT Badak NGL
Melaksanakan proses pencairan gas alam menjadi gas alam cair (Liquefied NaturalGas/LNG). Gas alam sebagai bahan baku diserahkan oleh perusahaan Production Sharing Contractor (PSC) yaitu VICO Indonesia, Total E&P Indonesie dan Chevron Indonesia yang merupakan produsen gas alam. Sedangkan fungsi pemasaran LNG dilaksanakan oleh Pertamina melalui Divisi PemasaranLNG. Pengaturan jadwal pengiriman dan pengangkutan LNG dari PT Badak NGL merupakan tanggung jawab Pertamina LNG Sales -JMG yang merupakan join venture antara Pertamina dengan PSC . Sebagai pengelola Kilang, perusahaan menjalankan aktivitasnya berdasarkan dua perjanjian yaitu: Badak LNG Processing
Agreement antara PT Badak NGL dengan para Produsen Gas yangberisi kesepakatan tentang pengolahan gas alam yang dikelolamenjadi LNG serta Plant Use and Operation Agreement antaraPT Badak NGL dengan Pertamina, mengenai ketentuan pengelolaandan pengoperasian Kilang. Processing Agreement juga mengatur bahwa PT Badak NGL tidak mendapat hak komersial atas gasyang diproses dan LNG yang dihasilkan.

Pelaksanaan Proses Produksi
Seluruh proses operasional selalu diselaraskan dengan lingkungan hidup, terkait dengan pemakaian sumber daya alam untuk memaksimalkan efisiensi dan proses pendaur-ulangan berbagai material.

Fokus dalam Pembangunan Berkelanjutan
Pembangunan berkelanjutan yang dijalankan di PT Badak NGL berusaha untuk merespon dan menganalisa perubahan yang terjadi melalui dua pendekatan yakni pengembangan Sistem Manajemen SHE-Q dan Community Development (Comdev).

Bentuk Tanggung jawab dan Kepedulian 
PT Badak NGL dalam rangka menjalankan pembangunan berkelanjutan, diwujudkan dalam :
1.Proteksi Bahaya Kebakaran
Kegiatan produksi PT Badak NGL mempunyai risiko tinggi terhadap bahaya ledakan dan kebakaran. Oleh karena itu perusahaan membentuk Fire Protection Section (FPS) yang fungsi utamanya adalah pencegahan, pengendalian dan menjaga Kesiapan (Readiness) setinggi mungkin, untuk menghindari kerugian yang sangat besar baik kerugian jiwa manusia, peralatan dan aset,kepercayaan serta kelangsungan devisa negara.


2.Program dan Agenda Khusus
Pelatihan Fire Fighting dan Rescue
FPS juga melakukan kegiatan khusus seperti mengoptimalkan fungsi Fire Training Ground (FTG) untuk pelatihan bagi perusahaanperusahaan nasional maupun internasional. Premier Oil, LNG Yaman,LNG Guang Dong, Total France, LNG Tangguh dan Pertamina telahmengirimkan personilnya untuk berlatih di FTG Bontang. FTG memiliki fasilitas LNG Fire Fighting terlengkap di dunia.
Emergency Drill
Kegiatan khusus lainnya adalah latihan pemadaman (fire drill) baik internal maupun gabungan dengan pihak luar untuk meningkatkanskill
Fire Fighting Contest
Fire Brigade PT Badak NGL mengikuti Fire Contest tingkat nasional yang diadakan oleh Pertamina di Sungai Gerong, Palembang.Kontes ini meliputi Fire, Rescue dan P3K dengan peserta dari unit-unit Pertamina di seluruh Indonesia dan anak perusahaan. Dalamkontes ini tim PT Badak NGL berhasil meraih juara umum.
Bantuan kepada Masyarakat
Fire Protection Section juga mempunyai misi sosial terhadap masyarakat sekitar dengan memberikan bantuan responsif terhadap beberapa kejadian seperti:
1. Bantuan regu pemadam kebakaran dan peralatan termasuk Fire Truck saat terjadi peristiwa kebakaran di Bontang Plaza dan diSimpang Empat PKT, Bontang.
2. Penyelamatan/evakuasi dua awak kapal Ponton
 Lindungan Lingkungan
Sejalan dengan misi perusahaan untuk memproduksi energi(LNG) yang ramah lingkungan, operasi PT Badak NGL senantiasa memperhatikan pengelolaan lingkungan hidup dengan berpedoman pada dokumen AMDAL, Peraturan Perundangan Lingkungan yang berlaku, standar Sistem Manajemen Lingkungan (SML) ISO14001, dan persyaratan PROPER Kementerian Lingkungan Hidup(KLH).
Sistem Manajemen Lingkungan
Dalam pengelolaan lingkungan, PT Badak NGL telah berpedomanpada standar Sistem Manajemen Lingkungan ISO 14001.Penerapan Sistem Manajemen Lingkungan merupakan bagian yangterkait dengan Sistem Manajemen Safety, Health, Environmental &Quality (SHE-Q MS) dan tercantum dalam SHE-Q MS Element 17
Environmental Protection.PT Badak NGL telah menerapkan Sistem Manajemen Lingkungan AMDAL, Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan
Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)
Pembangunan Kilang LNG Badak pada tahun 1974 telah melalui Kajian AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) yaitu kajian terpadu untuk meninjau dampak besar dan penting dalam kegiatanPemrosesan LNG. Perkembangan Kilang LNG Badak sejak awal pembangunannya memerlukan kajian komprehensif dalam upayapelestarian dan perlindungan lingkungan. Hal tersebut melatarbelakangidilakukannya Studi Revisi AMDAL Train A sampai denganTrain H pada tahun 1998. Kajian AMDAL difokuskan pada kegiatanPembangunan dan Pengoperasian Kilang LNG Train A-H yangberpotensi menimbulkan dampak penting terhadap lingkunganpada tahap Pra Konstruksi, Konstruksi, Operasi
Pengelolaan Lingkungan
Pengelolaan lingkungan hidup berdasarkan rencana PengelolaanLingkungan (RKL) sebagai bagian dari kajian AMDAL bertujuan untukmencegah dan meminimalkan kemungkinan dampak lingkungannegatif, mengembangkan dampak positif serta memanfaatkansumber daya alam secara efisien. Melalui perumusan dampakpenting pada setiap tahap pembangunan dan pengoperasian
Pengelolaan Limbah
Timbulan limbah dari aktivitas perusahaan diinventarisasi dengan identifikasi dan klasifikasi jenis limbah termasuk Limbah Berbahaya dan Beracun (B3) untuk menentukan penanganan yang tepat dalam pengelolaannya agar risiko lingkungan dapat diminimalkan. Inventarisasi limbah B3 secara rutin dimutakhirkan dan dilaporkan kepada pihak internal maupun eksternal.


Bab III
Contoh kasus dan pembahasan
Contoh Kasus Perusahaan Yang Tidak Dapat Melanjutkan Kegiatan Bisnisnya Akibat Tdak Menerapkan CSR
GENERAL ELEKTRICK
Perusahaan Multinasional yang bergerak di bidang teknologi General Elektrik telah gagal dalam mengelola perusahaan dalam kaitannya terhadap kelestarian sekitar diakibatkan pencemaran yang dilakukan perusahaan ini di sungai Hudson, New York, Amerika Serikat, Akibat dari pencemaran ini perusahaan harus menanggung biaya social yang tidak sedikit dan sangat berpengaruh terhadap keuangan perusahaan tentunya dalam hal keberlangsunganya, serta dampak lingkungan serta dampak social yang ditimbulkan.
Setelah 30 tahun perjuangan, tampaknya bahwa keprihatinan masyarakat lokal akhirnya menang atas kepentingan perusahaan dalam salah satu pertempuran tanda tangan dari gerakan lingkungan modern - perjuangan untuk menghapus PCB beracun dari New York Sungai Hudson. I Pada tahun 2002 sebuah keputusan penting EPA memacu General Electric, perusahaan yang telah dibuang sebanyak £ 1.300.000 penyebab kanker PCB ke sungai Hudson, untuk membuat rencana untuk menghilangkan kekacauan beracun dari sungai. Ini kemenangan bersejarah sekarang diwarnai dengan ketidakpastian, sebagai EPA dan GE telah mencapai penyelesaian yang memungkinkan perusahaan untuk kembali setelah menyisihkan 10 persen dari sedimen terkontaminasi ditargetkan untuk dihapus, meninggalkan sisa pembersihan dalam keraguan untuk menanggulangi kerusakan lingkungan ini.



PCB masih mengkontaminasi sungai Hudson dari pabrik GE Hudson Falls.


bahan kimia penyebab kanker umumnya dikenal sebagai PCB, digunakan dalam sejumlah proses industri sampai pemerintah federal melarang mereka pada tahun 1977. PCB telah dikaitkan dengan masalah reproduksi dan gangguan perkembangan serta kanker. Manusia terkena PCB terutama melalui makan ikan yang terkontaminasi. Setelah dikonsumsi, PCB tetap dalam tubuh, terakumulasi dalam jaringan lemak.
Dari tahun 1947 hingga 1977, GE dibuang sebanyak £ 1.300.000 dari PCB ke Hudson, balik bentangan 1997 mil sungai ke situs terbesar Superfund bangsa. Bahkan saat ini, PCB masih bocor ke sungai dari pabrik GE Hudson Falls. Menurut hukum Superfund, pencemar bertanggung jawab untuk membersihkan messes mereka buat. Namun selama bertahun-tahun, GE berjuang pengembangan rencana pembersihan dengan setiap alat itu bisa membeli, melobi Kongres, menyerang hukum Superfund di pengadilan, dan meluncurkan media membombardir untuk menyebarkan disinformasi tentang kegunaan pembersihan, mengklaim bahwa pengerukan sungai akan benar-benar membangkitkan PCB.
Dan bukan hanya itu saja , Pada tahun 1995 - dengan pendirian Penimbangan Bahan Radioaktiv membuat aktivitas perusahaan GE dengan pencemaran radiasi nuklir yang terungkap. General Electric menjalankan Hanford Nuklir Reservasi di Richland, Washington sebagai bagian dari program senjata Amerika, mulai tahun 1949, General Electric sengaja dirilis bahan radioaktif untuk melihat seberapa jauh melawan arah angin bahan radioaktif akan melakukan perjalanan. Satu awan melayang empat ratus kilometer, sepanjang jalan ke perbatasan California-Oregon, membawa mungkin ribuan kali radiasi lebih dari itu dipancarkan pada Three Mile Island.
Akibatnya (Mahadana) General Electric Co, Jum'at (16/10), melaporkan tingkat penjualan yang gagal menyamai estimasi pasar dan memberikan nada waspadan bahwa prose pemulihan dari resesi yang mendalam akan bersifat gradual 08:09:36WIB (Mahadana) General Electric Co, Jum'at (16/10), melaporkan tingkat penjualan yang gagal menyamai
estimasi pasar dan memberikan nada waspadan bahwa prose pemulihan dari resesi yang mendalam akan bersifat gradual. Pendapatan dari perusahaan konglomerat terbesar di AS ini anjlok 20% seiring dengan tingkat permintaan untuk semua produk, mulai dari mesin jet sampai alat kedokteran melemah. GE mengatakan bahwa pesanan untuk produknya, yang
merupakan indikator penting untuk periode yang akan datang, tergelincir 18%. Saham GE anjlok 5% dan bersama dengan Bank of America, yang membukukan kerugian kuartalan, menyeret turun saham-saham AS. Perusahaan pembuat mesin jet dan mesik turbin penghasil listrik nomer satu dunia ini mengatakan bahwa laba kuartal ketiga anjlok 42% menjadi $2.49 milyar, atau 23 sen odlar per saham, dari $4.31 milyar, atau 43 sen dolar per saham, setahun lalu. Tanpa menghitung one-time items, laba berada diangka 20 sen dolar, diatas estimasi analis yang memprediksi angak 20 sen dolar. Pendapatan anjlok 20% menjadi $37.8 milyar, dibawah estimasi $39.5 milyar yang dibuat analis.
CEO GE mengatakan bahwa GE akan terus melakukan restrukturisasi, namun percepatannya akan melambat di 2010, dan perusahaan terancam di tutup.

Contoh perusahaan yang menerapkan CSR
PT. INDOCEMENT TUNGGAL PRAKARSA Tbk
Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR) terus menjadi elemen kunci dari operasional Indocement dimana dapat membantu memperbaiki lingkungan sosial di tempat Perseroan beroperasi dan memberikan nilai tambah. Program CSR yang dijalankan oleh Indocement dibangun berdasarkan lima pilar utama, yaitu: Pendidikan, Kesehatan, Ekonomi, Sosial-Budaya-Agama-Olahraga.
Dengan beberapa program yang dititikberatkan kepada pemanfaatan ketersediaan sumber daya lokal bagi penyediaan lapangan kerja yang berkelanjutan dan untuk mendukung konservasi maka point-point umum yang dijadikan target oleh Indocement adalah :
1.      Indocement bertujuan untuk melaksanakan kegiatan yang terkait dengan lingkungan serta komunitas yang berkelanjutan, dengan mengintegrasikannya dengan tujuan Perseroan untuk mengurangi kemiskinan.
2.      Perseroan telah memfokuskan pada beberapa program pengembangan dengan memanfaatkan sumber daya lokal yang tersedia untuk menyediakan mata pencaharian yang berkelanjutan.
3.    Indocement peduli terhadap pelestarian tradisi kehidupan masyarakat setempat, juga satwa.

Sebagai bagian dari program tanggung jawab sosial perusahaan, PT.Indocement Tbk adalah satu-satunya perusahaan di Indonesia yang telah melaksanakan Carbon Accounting dan Proyek CDM yang telah memperoleh sertifikasi dari Badan Dunia. Dalam implementasinya PT.Indocement Tbk berhasil mengembangkan lebih dari 170 Ha perkebunan jarak ( Jatropha Curcas) pada bekas penambangan batu kapur, serta reboisasi pengembalian fungsi lahan yang ditanami pepohonan sebanyak 400Ha di daerah Kalimantan selatan. Indocement juga berhasil memprakarsai proyek pengolahan sampah rumah tangga dalam sekala kecil untuk masyarakat di sekitar Pabrik Citeureup dan Cirebon. Sampah yang diproses dapt digunakan sebagai bahan bakar biomassa yang menghasilkan energy pada proses produksi, dan juga menghasilkan kompos.
Menurut kami PT. Indocement Tbk adalah salah satu contoh perusahaan yang bergerak dalam pengelolaan sumber daya alam yang sangat baik yang mempunyai CSR (corporate social resposbility) dengan penerapan yang menggunakan penerapan system ANDAL singkatan Analisis Dampak Lingkungan yang sudah di mulai penerapannya di indonesia sejak 2002 yang menghitung estimasi kerusakan alam yang diakibatkan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pengelolaan sumber daya alam secara jangka panjang.
Di Indonesia perusahaan yang pertama dan satu-satunya yang telah melaksanakan penurunan emisi CO2 dengan terlebih dahulu menghitung berapa banayak emisi CO2 yang dikeluarkan oleh suatau industry (carbon accounting), dan perusahaan ini telah menetapkan kebijakan penurunan emisi tersebut dengan menggunakan metode CDM (Clean Development Mecanism).
Clean Develpopment Mecanim adalah mekasnisme pembangunan bersih , dimana estimasi kerusakan alam harus di tekan dengan perbandingan pembangunan perusahaan, khususnya yang mengeksplorasi hasil bumi.
Dan hasil yang didapat Di tahun 2010, Indocement membukukan laba bersih sebesar Rp3.225 miliar atau naik sebesar 17,4% dibandingkan 2009 sebesar Rp2.747 miliar. Penjualan domestik meningkat sebesar 8,5%, dari 11,8 juta ton pada tahun 2009 menjadi 12,8 juta ton pada tahun 2010. Pertumbuhan ini jauh melampaui pertumbuhan konsumsi domestik sebesar 6,2%. Pangsa pasar Perseroan oleh karenanya meningkat dari 30,2% menjadi 30,9%. Stabilitas harga memastikan laba kotor meningkat seiring pertumbuhan volume penjualan
domestik.
Keputusan Perseroan untuk fokus pada pasar domestic menyebabkan volume ekspor, yang pada tahun 2009 hanya membukukan volume sebesar 1,6 juta ton, semakin menurun menjadi 1,1 juta ton pada 2010, atau turun sebesar 35,0%. Volume penjualan Indocement secara keseluruhan oleh karenanya meningkat sebesar 3,2% menjadi 13,9 juta ton selama tahun 2010.
Menguatnya nilai Rupiah di 2010 makin memperkuat kinerja laba Indocement. Meskipun Rupiah pada awal tahun 2009 diperdagangkan pada tingkat Rp9.420/USD, kemudian menguat ke tingkat Rp8.888/USD dan ditutup pada Rp8.991USD pada akhir 2010. Penguatan nilai Rupiah ini sangat membantu menekan biaya pengadaan bahan baku dan material yang dibeli dalam Dolar AS.


Bab IV
Kesimpulan dan Saran
Pelaporan keberlanjutan perusahaan memiliki keterkaitan yang cukup penting dengan pelaporan lingkungan. Laporan lingkungan pertama diterbitkan pada akhir 1980-an oleh perusahaan-perusahaan dibidang industry kimia yang memiliki masalah pencitraan yang serius. Salah satunya yaitu Perusahaan Multinasional yang bergerak di bidang teknologi General Elektrik telah gagal dalam mengelola perusahaan dalam kaitannya terhadap kelestarian sekitar diakibatkan pencemaran yang dilakukan perusahaan ini di sungai Hudson, New York, Amerika Serikat yang akhirnya harus menanggung biaya social yang tidak sedikit. Berbeda dengan PT. INDOCEMENT TUNGGAL PRAKARSA Tbk yang dengan baik terus melaksanakan tanggung jawab sosialnya. Maka dengan hal tersebut dapat membuat keberlanjutan perusahaannya menjadi lebih baik.
Untuk menunjukkan bahwa perusahaan adalah warga dunia bisnis yang baik maka perusahaan dapat membuat pelaporan atas dilaksanakannya beberapa standar CSR termasuk dalam hal:
§  Akuntabilitas atas standar AA1000 berdasarkan laporan sesuai standar John Elkington yaitu laporan yang menggunakan dasar triple bottom line (3BL)
§  Global Reporting Initiative, yang mungkin merupakan acuan laporan berkelanjutan yang paling banyak digunakan sebagai standar saat ini.
§  Verite, acuan pemantauan
§  Laporan berdasarkan standar akuntabilitas sosial internasional SA8000
§  Standar manajemen lingkungan berdasarkan ISO 14000


Daftar Pustaka
Cahyandito, M. Fani. Pembangunan Berkelanjutan, Ekonomi Dan Ekologi, Sustainability Communication Dan  Sustainability Reporting. Http://Pustaka.Unpad.Ac.Id/Wp-Content/Uploads/2009/06/Jurnal_Lmfe_Pemb_Berkelanjutan-Ekonomiekologi-Sust_Comm-Sust_Rep_Fani.Pdf. [28 Mei 2011]
Hendriyeni, Nora Sri. 2011. People, Planet, Profit Dan Akuntan Http://Www.Ppm-Manajemen.Ac.Id/Index.Php?Wb=09&Mib=Ppm_Articles.Detail&Id=5. [28 Mei 2011]
Tanggung jawab sosial perusahaan. http://id.wikipedia.org/wiki/Tanggung_jawab_sosial_perusahaan. [29 Mei 2011]



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar